Sampah Bisa Jadi Sumber Listrik Masa Depan, Potensinya di Indonesia Capai Ribuan Megawatt
Sampah yang selama ini menjadi masalah lingkungan ternyata berpotensi menjadi sumber listrik baru bagi Indonesia.
Tumpukan sampah yang selama ini identik dengan masalah lingkungan ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber energi listrik. Di tengah meningkatnya volume sampah dan keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA), teknologi Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk mengatasi dua persoalan sekaligus: pengelolaan sampah dan kebutuhan energi.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menetapkan sejumlah proyek PSEL sebagai Program Strategis Nasional (PSN). Chief Executive Officer Danantara Investment Management (DIM), Pandu Sjahrir, menilai langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan sampah yang semakin kompleks.
Menurut Pandu, banyak TPA di berbagai daerah saat ini sudah menghadapi keterbatasan kapasitas. Sebagian masih menggunakan metode open dumping yang tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga menghasilkan emisi gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
“Melalui Denera (PT Daya Energi Bersih Nusantara) kami ingin membantu percepatan realisasi ekosistem Waste-to-Energy yang mampu menjadi bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan pengelolaan sampah di Indonesia. Penetapan PSN terhadap tiga lokasi gelombang pertama ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menghadirkan solusi yang terintegrasi dalam mengatasi krisis sampah,” kata Pandu.
Sampah Indonesia Bisa Menjadi Pembangkit Listrik
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar berakhir di TPA, sementara tingkat daur ulang masih relatif rendah.
Dalam teknologi Waste-to-Energy, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi. Melalui proses pembakaran terkendali (incineration), gasifikasi, atau teknologi termal lainnya, sampah dapat diubah menjadi uap yang kemudian menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Berbagai kajian memperkirakan potensi energi dari sampah perkotaan di Indonesia dapat mencapai ribuan megawatt apabila dikelola secara optimal. Selain menghasilkan listrik, teknologi ini juga mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 80 persen sehingga dapat memperpanjang umur operasional TPA yang saat ini semakin terbatas.
Keuntungan lainnya adalah pengurangan emisi gas metana yang selama ini dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik di TPA terbuka. Gas metana diketahui memiliki efek pemanasan global yang jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Tiga Proyek PSEL Masuk Program Strategis Nasional
Sebagai bagian dari percepatan pengembangan Waste-to-Energy, pemerintah telah menetapkan tiga proyek PSEL sebagai Program Strategis Nasional melalui Surat Keterangan PSN yang diterbitkan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).
Ketiga proyek tersebut meliputi PSEL Kota Bekasi di Jawa Barat yang dikelola oleh Bekasi Environment Nusantara, PSEL Bogor Raya yang dikembangkan oleh Nusantara Bogor New Energy, serta PSEL Denpasar Raya di Bali yang dijalankan oleh Nusantara Bali New Energy.
Ketiga badan usaha pengembang dan pengelola proyek tersebut dibentuk melalui proses pemilihan mitra yang dilakukan oleh Danantara Investment Management melalui Denera.
Chief Executive Officer Denera sekaligus Director Investment DIM, Fadli Rahman, mengatakan penetapan status PSN menjadi momentum penting dalam upaya transformasi pengelolaan sampah nasional.
Menurutnya, pengembangan PSEL kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai proyek daerah, melainkan telah menjadi bagian dari agenda strategis nasional yang berkaitan dengan ketahanan energi, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan.
“Bagi Denera, status ini tidak hanya mempercepat realisasi di tiga lokasi awal, tetapi juga menjadi pijakan penting bagi pengembangan fasilitas PSEL di lokasi-lokasi berikutnya,” ujar Fadli.
Pandu bahkan menilai Denera berpotensi menjadi salah satu perusahaan Waste-to-Energy terbesar di dunia jika pengembangan proyek berjalan sesuai rencana. Ke depan, perusahaan tersebut juga membuka peluang untuk masuk ke pasar modal melalui pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia.
Masuknya proyek PSEL ke dalam daftar Program Strategis Nasional menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat sampah bukan hanya sebagai masalah lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diubah menjadi energi dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Dengan jumlah sampah yang terus meningkat setiap tahun, teknologi Waste-to-Energy berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular dan transisi energi bersih di Indonesia.





